News Update :

Pendidikan perlu kesungguhan, bukan nasib atau air jampi

June 28, 2010

Salam menjelang hari baru,
Saya yakin ramai yang percaya pendidikan perlukan kesungguhan dan bukan sebaliknya. Entri ini bukan bertujuan untuk menggurui sesiapa, dan tidak juga berharap orang lain akan mengiringi pandangan saya.

Cuma berasa aneh, bila ada sesetengah masyarakat menganggap pendidikan seperti dalam perjudian. Sehingga ada yang merasakan, lulus atau gagal adalah nasib. Ungkapan ‘kalau nasib baik lulus, kalau nasib tak baik gagal…, bukanlah asing didengar.

Ironisnya hal ini sering terjadi dalam masyarakat Islam, malah tidak kurang juga para ibubapa sibuk mendapatkan air jampi dari ‘ahli-ahli tertentu’. bila menjelang peperiksaan atau ujian anak-anak mereka. Menurut mereka, sudah terbukti air jampi dari ‘ahli-ahli tertentu’ dapat membantu untuk mendapatkan keputusan cemerlang.

Tanggapan atau budaya seperti inilah yang melemahkan usaha kita terhadap pendidikan. Bayangkan saja kalau generasi baru turut terpancing dengan andaian seperti itu, bukankah ini akan mengurangkan kesungguhan dan daya motivasi seorang pelajar.

Saya pernah menyentuh hal ini dihadapan pelajar-pelajar saya, di sebuah institusi swasta. Kami membicarakan dunia pekerjaan yang memang berbeda dengan dunia pendidikan. Contohnya; dalam pekerjaan, seorang pekerja yang baik belum tentu mendapat hasil yang baik, jika majikan bersikap sebaliknya. Kerana pekerjaan perlukan kombinasi yang baik antara dua pihak termasuk beberapa elemen lain.

Ini pastinya berbeda dengan pendidikan, yang banyak bergantung pada kesungguhan. Saya suka berpegang pada prinsip, bahwa ‘pendidikan tidak pernah menipu kita’. Namun kita boleh saja menipu diri jika percaya pada kebiasaan yang salah.

Sewaktu belajar saya bukanlah pelajar yang ‘mampu’, tapi kerana kesungguhan yang berterusan dan sedar dengan kekurangan diri telah membawa saya bergerak jauh, dari pinggir jalan di daerah Mukah…

Thank you to my ex-lecturers, Mr Michael dan Ms Margot.
May God Bless You…

Share this Article on :

24 comments:

pakies said...

pencerahan pagi yang bermanfaat Sob. Bahwa keberhasilan memang memerlukan proses yang tidak bisa bim sa la bim, usaha keras dan diiringi doa, Insa Allah mengantarkan kita menjadi insan yang menjadi kebanggaan Agama, keluarga dan banga

BRI Jakarta Veteran said...

setuju sahabat, Pendidikan perlu kesungguhan dan tidak akan menipu, justru banyak sebahagian dari masyarakat yang menipu pendidikan.

etam grecek said...

belajar dan belajar dg sungguh-sungguh..pasti akan mendatangkan keberhasilan dlm pendidikan

Gadgets said...

nice blogs you have here.. ( http://spyware-gadgets.blogspot.com/)

Herdoni Wahyono said...

Betul sekali, perlu upaya yang sungguh-sungguh dalam memajukan pendidikan. Pendidikan ini menjadi salah satu sokoguru kemajuan suatu bangsa. Perlu upaya yang simultan dan sungguh-sungguh serta dukungan dari seluruh stakeholders dalam memajukan pendidikan di negeri ini. Trims artikelnya yang menarik. Salam sukses sobat.

alkatro said...

i agree sobat, semua orang berawal dari 0, dan hanya usaha dan kerja keras yang bisa membuat kita berhasil.. great post!

shameel Iskandar said...

Hari ini bukan pelajar sahaja yg memandang remeh tentang kepentingan pendidikan, malah ibu bapa juga begitu. Ini yang saya saksikan di sekolah. Selama beberapa tahun menjadi guru dapat saya simpulkan ( ini berdasarkan sekolah yg saya ajar di perak) hanya dua kelas berbanding tujuh kelas yang benar-benar mementingkan pelajaran. kelas2 lain hanya sekadar pergi ke sekolah untuk suka-suka sahaja.

Apai Ngelai said...

salam bro.. memang betul. Usaha tangga kejayaan. Bukan jampi tangga kekayaan.. tiada usaha tiadalah hasil...

Bro, kalau boleh tolong addkan saya dalam FB.

apaingelai@yahoo.com

pch said...

tak sangka ada gak yg ckp ikut nasib...huhu



MENARIK : Dulu tukang cuci kereta sekarang jutawan beb!!
bimbang virus dari pendrive rakan menyerang komputer anda??? usah kuatir dapatkan sekarang FREE : Suis USB
FREE: jom login YM banyak2...hehe

al-basri said...

@pakies:
lama saya tak dengar ayat ni 'bim sa la bim'..hehe
terima kasih masukannya.

al-basri said...

@BRI Jakarta Veteran;
terima kasih sahabatku

al-basri said...

@etam grecek:
ya sobat, semoga sukses selalu.
terima kasih

al-basri said...

@Herdoni Wahyono:
benar sekali sob, terima kasih atas pencerahan yg berbobot.

al-basri said...

@alkatro:
sekedar pandangan orang kampung...hehe
terima kasih masukannya.

al-basri said...

@shameel Iskandar:
itu juga yang saya lihat..hingga kita sukar untuk menyalahkan siapa. ironisnya sesetengah ibubapa suka menyalahkan guru bila anak-anak mereka kurang berketrampilan dlm pendidikan.

terima kasih cikgu, semoga maju jaya

al-basri said...

@Apai Ngelai;
ada juga orang kita percaya pada jampi tok guru...
ohhh ya Apai, saya belum ada Facebook. sebab belum ada kesempatan untuk ber'facebook'.

terima kasih emailnya, nanti kalau dah ada 'mukabuku' saya akan add Apai. ok

al-basri said...

@pch;
itulah kebiasaan org kita.
terima kasih segala informasi yg dibawa.

oketrik said...

air jampi apa y?

al-basri said...

@oketrik;
tanya aja sama mbah dukun atau pak ustaz..
terima kasih

NURA said...

salam sobat
iya harus sungguh2 dan niat dalam pendidikan,
kalau hanya menunggu nasib bisa malas untuk berusaha.

narti said...

benar sekali kalau pendidikan itu harus sungguh2, bukan dari jampi2...
masih adakah yang seperti itu? ironis sekali...

al-basri said...

@NURA;
ya mbak, terima kasih komentarnya.

al-basri said...

@narti:
mungkin sudah terbiasa begitu, makanya sukar dilupa...
terima kasih komentarnya

Anonymous said...

cuma orang tolol dan goblok yang percaya air jampi......kalo mau semua keinginan tercapai minta ama yang punya alam ini(allah swt)...
....kalo minta air ama orangpinter..emang itu bener orang pinter..lo liat aja..air jampi segelas harganya bisa puluhan ribu..bahkan ratusan..gobloknya lagi jutaan.....mending beli air galon isi ulang ...udah murah manfaatnya banyak lagi........

Post a Comment

 

© Copyright al-basri 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.