News Update :

FTA 2010 DAN KITA

January 11, 2010

Salam Hormat,
Tahun 2010 telah memberi isyarat yang signifikan besar kepada pelbagai pihak dengan pelaksanaan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA), kerana para pengeksport boleh saja mengambil kesempatan penuh terhadap peluang yang terbuka dalam pelbagai perjanjian tersebut. Malaysia tidak terkecuali mendapat manfaat daripada liberalisasi perdagangan oleh Pertubuhan Perdagangan Sedunia (WTO), Perjanjian Perdagangan Bebas Asean (AFTA) dan banyak lagi perjanjian dua hala.

Ini bukan lagi waktunya untuk mengeluh dan meneriakkan nasionalisme yang sempit. Soal sanggup atau tidak, kita harus berdepan dengan keadaan dunia luar yang lebih mencabar, serta meningkatkan lagi jumlah eksport dan dagangan. Dalam istilah yang lebih mudah, AFTA dan FTA adalah satu reformasi ekonomi secara besar-besaran. FTA ini termasuk Asean-China, Asean-Korea, Asean-Japan, Asean-India serta Asean-Australia/New Zealand, yang bermula 1 January 2010.

Malaysia yang telah memuktamadkan FTA dua hala dengan Pakistan, Japan dan New Zealand. manakala perjanjian dua hala dengan India, Chile dan Australia dijangka akan dimuktamad dalam waktu yang terdekat. Keseluruhan perjanjian ini dapat memberi impak yang amat signifikan kepada produk eksport dan pertumbuhan ekonomi negara. kerana FTA bukan sahaja membuka pasaran baru bagi produk Malaysia, tapi turut menjadikan harga produk Malaysia lebih kompetitif berdasarkan layanan duti keutamaan yang ditawarkan oleh rakan perdagagan FTA.

Secara bersama, FTA yang dimuktamadkan meliputi 60% daripada perdagangan global Malaysia, yang akhirnya akan menyediakan pasaran bebas duti kepada lebih 3.2 billion penduduk. Perjanjian AFTA contohnya, turut menawarkan layanan keutamaan bagi hampir keseluruhan produk. Manakal China dan enam anggota awal Asean akan memberikan layanan bebas duti ke atas 90% produk.

Perjanjian dua hala FTA Malaysia-Amerika yang seharusnya dapat dilaksanakan lebih awal. namum persoalan 'keistimewaan' dan 'perlindungan' telah menyebabkan keputusan tertunda sekian lama. Malaysia sebagai rakan dagangan Amerika yang ke-10 terbesar dunia dan yang ke-5 terbesar di Asia, selepas China, Japan, Korea dan Taiwan. Dengan rekod dagangan Malaysia-Amerika yang melebihi USD44 billion, tentunya dengan perlaksanaan FTA Malaysia-Amerika akan mampu melipat gandakan nilai tersebut.

Perjanjian tersebut dijangka akan membuka ruang kepada kalangan pembekal barangan berteknologi tinggi, komputer, telekomunikasi, khidmat kewangan, sumber kuasa dan perubatan Amerika untuk menjengah masuk ke pasaran Malaysia yang mempunyai pendapatan per kapita ketiga tertinggi di ASEAN.

Dalam melihat secara optimis, berbagai pihak juga menyatakan kebimbangan tentang kesan negatif jangka panjang kerana Amerika nampaknya telahpun lebih awal menduduki Malaysia, beberapa perusahaan Amerika seperti General Electric, Intel, Motorola, AIG, Cargill, Citigroup, Discovery Communications, FedEx dan Oracle yang telahpun menjadikan Malaysia sebagai 'hub' mereka di rantau ini.

Untuk mencari titik kesuksessan dalam keseluruhan AFTA dan FTA ini, masyarakat harus memisahkan sentiment politik dan kecenderungan ekonomi. Jika tidak, kita akan ketinggalan untuk 'belajar' seberapa banyak strategi terpenting dalam persaingan globalisasi. Kita mungkin belum bersedia sepenuhnya, tapi kita harus bergerak dan belajar.

Beberapa negara membangun mungkin akan menerima kejutan, tentang persoalan standard dan prosedur yang berbeda-beda antara negara maju dan negara membangun. Itulah yang saya katakan kita harus belajar dan terus belajar untuk menepati standard dunia, yang memungkinkan kita mampu bersaing sebagai pengekport secara global. Persaingan ini pastinya tidak terbatas pada soal produk dan eksport sahaja, tapi juga mencakupi standard pendidikan dan yang lainnya.

Pendidikan tinggi Malaysia rasanya sudah bergerak ke landasan yang betul, berdasarkan implementasi 'twinning program', 'franchise' atau 'kerjasama pintar' yang telah memperlihat beberapa Universiti dan Kolej dari Britain, Amerika, Canada dan Australia membuka Kampus Kolej dan Universiti mereka di Malaysia. Ini mungkin tidak menjadikan Malaysia setaraf dengan status mereka, tapi telah menjadikan pendidikan tinggi Malaysia diiktiraf oleh negara-negara maju.

Dengan terlaksananya FTA, secara peribadi saya menjangkakan krisis dalaman akan terjadi dibeberapa negara membangun, krisis yang bernada kejutan terhadap keterbukaan akan mengiringi masalah standard produk. Jika sesebuah negara biasa memuji diri "saya hebat", "saya kreatif" atau "saya lebih bermutu", inilah ujian buat semua apakah kita benar-benar seperti yang kita katakan atau sebaliknya. Dunia akan memberi jawaban yang jelas, apakah standard kemahiran, pendidikan, kemudahan, infrastruktur dan produk kita diiktiraf oleh negara maju dan dunia.

Nasionalisme yang sempit tidak akan membawa kita kemana-mana, meskipun dalam letusan ekonomi dan agihan kesempatan sebesar FTA. Atau.... terpaksa mengakui, kita sememangnya ketinggalan dari dulu, kini dan selamanya...hiks.

Setiap kejayaan harus ada pergorbanan.
Share this Article on :

39 comments:

Rizky2009 said...

akhirnya bisa pertamax juga d sini........ waduh kalau yang ini aq g bisa coment nih, pengetahuan q soal ini masih minus sob

BlogspotTemplateCollection said...

walau bagaimanapun kerajaan harus mengambil sikap berhati-hati dalam soal ini. apa lagi berhadapan dengan amerika yang kita kenali sering mengamalkan double standard. ini sering terjadi kerana amerika sering mengiakan perkara yang merugikan negara ketiga tetapi menguntungan amerika.

sosial seni budaya bisnis said...

dan perdagangan bebas dengan cina bakalan bikin tambah rumit ekonomi bangsa ...sebab persaingan dengan barang murah yang melimpah membuat kewalahan para pengusaha kelas menengah negeri ini

Johnson Manurung said...

tepat sekali mas Basri
Nasionlaisme jangan lagi diartikan secara sempit
Salam

small note - budiawan hutasoit said...

di Indonesia banyak pengusaha yang merasa pesimis dengan dibukan FTA dengan China.
karena tidak mampu bersaing dengan produk-produk China.
mereka meminta Pemerintah Indonesia untuk menunda.
kita lihat saja apa yang akan terjadi.

the international times said...

menunda FTA juga bukan merupakan solusi terbaik,kita tidak akan pernah bisa maju dgn menunda FTA,bukan membesarkan rasa khawatir kita,tapi coba lah dengan membenahi sistem birokrat dlm pemerintahan,dan mencari solusi lain.

Osi said...

Tampak semakin berat ni persaingan bisnis...

Jadi bertambah sulit cari duit...

NumB3R said...

Hehe. . .saya sempat juga sih mendengar beberapa pendapat para pengusaha di negara saya, kebanyakan dari mereka sangat pesimis dengan dibukanya FTA dengan Cina.

Bagaimana dengan para pengusaha di negara sobat?

Anyway, gimana kabarnya sob?
lama nih tak kunjung :D

al-basri said...

Rizky2009;
gakpa2 sob, terima kasih.

al-basri said...

BlogspotTemplateCollection;
benar sekali sob, dan yang terkini Amerika bersetuju tentang 'perlindungan' dan membawa proton ke pasaran Amerika. cuma mereka belum bersetuju tentang 'dasar dalaman' Malaysia.

semoga saja bisa sukses
terima kasih Seri.

al-basri said...

sosial seni budaya bisnis;
negara saya tidak mengalami masalah seperti itu, kerana Malaysia target pada pasaran luar
maka persoalan domestik tidak timbul.

terima kasih.

al-basri said...

Johnson Manurung;
terima kasih pengertian sobat, semoga kita semua bisa sukses

al-basri said...

small note - budiawan hutasoit;
sejujurnya saya tak fikir Indonesia ada masalah, jika Indonesia produktif dan ada produk 'bermutu' untuk di eksport ke luar negara. menurut saya, disitulah titik soal yang penting...

terima kasih sob, semoga sehat dan sejahtera selalu...
p/s; gambar naga di blog sobat cantik ya..

al-basri said...

the international times;
benar sekali dik, harus ada langkah yang wajar untuk bergerak ke hadapan. jika tidak, kita akan terus ketinggalan dalam pasaran dunia.

terima kasih dik, semoga sehat dan ceria selalu

al-basri said...

Osi;
artinya ekonomi Indonesia banyak bergantung pada pasaran domestik...

terima kasih Osi, semoga sehat2 orang disana. maklum musim hujan, ada saja yang demam.

al-basri said...

NumB3R;
Negara saya tidak mengalami masalah seperti Indonesia. Kerana sebagai negara yang berpenduduk sedikit, Malaysia memang tidak bergantung pada pasaran domestik dan tidak timbul masalah eksport dengan negara-negara yang terlibat FTA.

Malaysia cuma ada masalah dengan Amerika, kerana Amerika tidak bersetuju dengan 'dasar dalaman' Malaysia berkaitan 'hak keistimewaan'. sebab itu FTA Malaysia-Amerika sudah tertunda sejak beberapa tahun.

terima kasih sobat, saya disini baik saja..
semoga sobat sehat dan sejahtera selalu.

harto said...

produk dalam negeri bisa terpukul niiih, banjir produk luar yang belum tentu kwalitasnya menjamin dengan harga yang murah.

semoga sukses selalu sobat & tetap semangat... salaaamm...

intermezo said...

dipasaran mulai banyaknya barang dari luar dengan kualitas yang bermacam-macam dan mau gak mau harus bersaing dengan produk lokal, dampaknya masih terus berlanjut, tentunya ada pihak yang merasa untung dan ada juga merasa rugi... seperti biasa hukum dagang berlaku :)

al-basri said...

harto;
pastinya itulah hakikat yang harus kita terima...
terima kasih atas komentarnya, salam sejahtera.

al-basri said...

intermezo;
kalau di negara saya sudah lama kami melihat kebanjiran produk murah dari China atau Indonesia...
terima kasih sobat,
semoga saja kita semua bisa sukses.

rumah blogger said...

thanx sharenya bro..lama tidak berkunjung saya sibuk sekali

sabirinnet said...

merupakan tantangan semua negara untuk berpacu menjadi yg terbaik..

Bang Ancis said...

Hmm pasar bebas memang sudah dimulai, menurut yang aku dengar Negara anda sudah memulainya ya? Salut, tapi saya pikir2 engan adanya Pasar Bebas, saya merasa iba dengan masyarakat kecil dan pengusaha2 sedang, bagaimana barang produksi mereka aka laku jika penduduk negaranya sendiri lebih senang belajar barang import yang katanya demi sebuah gengsi serta kualitasnya yang agak "terjamin"?

He..he.. thanks sudah berkunjung n koment.

al-basri said...

rumah blogger;
gakpa sob, saya juga sering sibuk.
senang lihat sobat hadir disini.
terima kasih ya, smoga baik2 saja.

sabirinnet;
iya sob, inilah ujian buat semua.
semoga saja semuanya bisa sukses,
terima kasih komentarnya.

al-basri said...

Bang Ancis;
ya, negara saya memang sudah memulakan FTA dengan banyak negara lain.
nampaknya sobat bicara soal pasaran domestik..., kami di Malaysia tidak melihat soal itu karna penduduk kami sedikit. cuma yang penting negara saya harus terus belajar dan bergerak ke luar sebagai pengeksport...
agar tidak mengalami defisit.

terima kasih komentar yang berbobot,
salam sejahtera.

KucingTengil said...

meski Mia lebih mendukung FAIR TRADE, tapi krn FTA lah yg lagi rame2nya diterapkan, makanya cuma bisa berharap apa yg akan di bawa oleh FTA bisa berdampak baik bagi semua lapisan masyarakat terutama masyarakat kecil meskipun FTA cenderung bisa mematikan usaha masyarakat kalangan rendah ditengah riuhnya persaingan dg pengusaha menengah keatas yg lebih banyak modalnya

yuni said...

artinya perekonomian makin etrpuruk dan kesejahteraan masyarakat terutama menengah terbawah semakin tak terjamin....
kapan ya negara kita bisa sesuai dengan sebuatannya "zamrud khatulistiwa" ....
memang Indonesia masih kaya....
tapi kok rakyatnya masih banyak yang kelaparan ya.....?????

ade said...

ayo Indonesia maju.....
jangan mau kalah dengan negara lain......

Aditya's Blogsphere said...

Majulah indonesiaku....berjayalah merah putih q......entahlah kapan berita2 di koran yang ngomongin pansus, anggodo, neo liberal dan lainya itu bisa berhenti...dan ganti mikirin para pengangguran sera gtt yang terpuruk......salam....artikel penuh semangat....

xtin said...

semoga indonesia bisa bertahan. bersaing dalam berbagai bidang. jaya indonesia...

al-basri said...

KucingTengil;
menurut saya, masyarakat harus belajar tentang 'quality' dalam arti yang sebenarnya, bukan lagi bangga dengan 'quantity' saja.
saya pasti itulah yang penting agar kita mampu bergerak ke hadapan...

terima kasih Mia, salam sejahtera...

al-basri said...

yuni;
seharusnya FTA dilihat sebagai perubahan paradigma yang akan membawa kita ke hadapan. Jika tidak ikut bersaing dalam kesempatan yang telah terbuka, ini akan menyebabkan ekonomi kita 'terpuruk'. Memang semua ini tidak semudah melaungkan slogan atau memberi gelaran yang muluk-muluk...
kemajuan harus ada pergorbanan, satu kombinasi "rakyat dan pemerintah"...

terima kasih, semoga maju jaya..

al-basri said...

ade;
terima kasih atas komentar dan semangatnya.
salam hangat.


Aditya's Blogsphere;
Indonesia pernah ada pengalaman sebagai negara "harimau ekonomi" di Asia sewaktu zaman Suharto. artinya sekarang ada pilihan, untuk maju dalam ekonomi atau sebagai Nasionalis saja... rakyat Indonesia ada jawabannya.

terima kasih, semoga sukses dan salam hangat.

al-basri said...

xtin;
terima kasih atas komentar,
semoga sukses selalu

narti said...

semoga Indonesia bisa lebih maju, membawa ekonomi pada kemajuan untuk seluruh rakyat.

sda said...

tinggal bagaimana kita berusaha untuk maju.

facebook said...

we don't like free trade area!!

al-basri said...

narti & sda;
terima kasih, semoga semua sukses..

facebook;
...and we do like it, there's a single step to be more competitive in a larger world.
thank you for your comment and visit.

alkatro said...

dari segi kualitas dan biaya produksi; yang pasti tidak semua Negara benar-benar siap menghadapi hal ini; dan beberapa pengusaha kecil di daerah saya sepertinya bersiap untuk menutup usahanya jika FTA ini benar-benar dilaksanakan..

Post a Comment

 

© Copyright al-basri 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.